Harian Berita – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jakarta memberikan kritiknya mengenai pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang cuma menyalahkan cuaca ekstrem sebagai penyebab banjir di Ibu Kota.
Pengkampanye Walhi Jakarta Muhammad Aminullah menilai, jika ada faktor lain selain cuaca yang membuat banjir di Ibu Kota, yaitu tata ruang yang berantakan.
“Pemerintah tidak bisa terus menerus mengkambinghitamkan hujan dan alam. Iklim juga memengaruhi, tapi tidak bisa karena krisis iklim terus pemerintah berlindung dengan alasan seperti itu,” ujar pria yang dikenal dengan nama Anca, seperti dikutip CNNIndonesia.com, Selasa (11/10).
“Kalau drainasenya buruk, area resapan sedikit, daya serap tanah juga buruk, itu kesalahan manusia, dalam hal ini pemerintah, bukan kesalahan hujan. Jadi jangan salahkan alam,” tambahnya.
Anca menjelaskan, bahwa kemampuan sistem drainase di Jakarta hanya bisa menampung 100mm per hari. Padahal, kita tahu jika debit hujan yang turun lebih dari angka tersebut.
“Ketika curah hujannya lebih besar, air akan meluap,” ujarnya.

Bukan hanya itu saja, daya serap air tanah yang ada di Jakarta juga sangat rendah, di mana hanya 10 persen. Hal ini berarti, 90 persen air tidak bisa diserap oleh tanah.
Perlu diketahui, rendahnya daya serap tanah ini diakibatkan banyaknya pembangunan fisik namun area resapan air hanya sedikit. Oleh karena itu, air yang harusnya diserap oleh tanah, mengalami kesulitan karena banyaknya bangunan fisik.
Anca menambahkan, Pemprov malah menerbitkan Pergub 118/2020 mengenai izin pemanfaatan ruang. Yang mana Pergub itu mempermudah pembangunan IMB.
Dia menyebut di tahun 2021 saja, Pemprov Jakarta sudah menerbitkan sekitar 1.000 IMB. Di mana naik sekitar 40 persen dari tahun 2020 yang mencapai 6.798 IMB.
“Sementara Ruang Terbuka Hijau (RTH), masih segitu gitu saja, bahkan RTH yang sebelumnya dikabarkan 9 atau 11 persen, saat ini hanya 5 persen,” sebutnya.

Lalu, Anca juga mengamati pembangunan beton di Sungai Ciliwung. Ini dikarenakan, beton menyebabkan jumlah air yang mengalir tidak terserap banyak.
“Di sungai (Ciliwung) treatmennya juga salah, sempadan sungai dibeton itu sangat fatal. Sempadan sungai tidak boleh dibeton karena berfungsi sebagai area resapan juga,” katanya.
“Ketika debit sungai tinggi karena air hujan dan kiriman, sempadan sungai ini akan menyerap air. Kalau di beton, airnya justru akan langsung mengalir ke hilir tanpa diserap area sekitar sungai, dan akan lebih cepat mengalirnya,” tambahnya.
Banjir di Jakarta

Akhir-akhir ini, banjir sering terjadi di sejumlah titik di Jakarta. Di mana salah satunya di kawasan Pondok Labu, Jakarta Selatan yang membuat tembok bangunan di MTSN 19 roboh, Kamis (6/10). Kejadian tersebut juga membuat tiga anak tewas.
Perihal banjir yang melanda sejumlah wilayah ibu kota itu, Anis pun kemudian buka suara. Banjir kali ini, menurutnya merupakan akibat curah hujan yang sangat tinggi.
“Begini, hujan yang kita hadapi selama beberapa hari ini relatif ekstrem. Seluruh Indonesia mengalami,” kata Anies di kawasan Kota Tua, Jakarta, Senin (10/10) malam.
